BAB I
PENDAHULUAN
ALatar Belakang
Pendidikan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan bangsa dan
masyaraktnya, oleh karena itu kita harus dapat memecahkan banyak masalah yang
menyangkut peningkatan harkat dan martabat umat manusia dalam satu bangsa itu.
Meningkatkan harkat dan martabat hidup manusia berarti banyak menyangkut
pendidikan, peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri oleh karenanya
perjuangan manusia dalam proses pendidikan dan kebudayaan menempati posisi
kunci dalam perjuangan tersebut. Tiada suatu kemajuan atau peningkatan hidup
didalam peradaban dan kebudayaan tanpa adanya peningkatan dalam usaha
pendidikan.[1]
Teori behavioristik
merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang kemudian
diadopsi oleh dunia pendidikan. Menurut Jhon Watson (1878-1958), belajar
sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon
yang dimaksud harus dapat diamati dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui
adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar,
namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu
diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Aliran psikologi sangat besar
pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran
hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada
terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori belajar behavioristik
adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman.[2]
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas
tentang teori belajar behaviorisme dan neobehaviorisme dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Behaviorisme dalam
Pembelajaran.
1. Edward Lee Thorndike ( The
Law of Effect)
Belajar adalah hubungan
antara stimulus (pikiran, perasaaan, gerakan) dan respons (pikiran, perasaan,
gerakan). Apabila respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara
stimulus dan respons semakin kuat dan sebaliknya.[3]
Perubahan tingkah laku boleh berwujud
sesuatu yang dapat dan tidak bisa diamati.[4]
Faktor penting yang
mempengaruhi semua belajar adalah pernyataan kepuasan dari suatu
kejadian. Ia menghapuskan bagian negatif yang mengganggu dari hukum pengaruh (law
of effect) karena dia menemukan bahwa hukuman tidak penting Hukuman akan
memperlemah ikatan dan tidak mempunyai effect apa-apa berbeda dengan hadiah (reward).
Teori belajarnya mengarah
pada sejumlah praktik pendidikan. Saran
umum bagi guru adalah tahu apa yang hendak diajarkan, respons apa yang
diharapkan, dan kapan harus memberikan hadiah atau penguat. Ia menunjukan satu
ikatan antara stimulus dan respons yang terjadi dalam matematika. Ulangan yang
tetap dari tabel perkalian dengan memberikan hadiah dari guru akan membentuk
ikatan antara stimulus (berapa 7x7) dan respons (49) dalam membaca ulangan juga
ditekankan dengan menyuruh siswa belajar
menggunakan kata sesering mungkin pada berbagai tingkat kelas. Hukum pengaruh mengarah
pada pemberian hadiah yang konkret, seperti gambar bintang yang ditempelkan
pada papan kelas (untuk siswa siswa TK dan SD) pada kertas hasil ulangan
siswa, pujian verbal. Hukum latihan
mengarah pada banyaknya ulangan, praktik
dan dril untuk semua mata pelajaran.
2. Ivan Pavlow ( classic conditioning
: pengkondisian klasik)
Teori ini adalah sebuah
prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum
terjadinya refleks tersebut. Belajar adalah perubahan yang ditandai dengan
adanya hubungan antara stimulus dan respons. Stimulus yang diadakan selalu
disertai dengan stimulus penguat. Stimulus tadi, cepat atau lambat akan
menimbulkan respons atau perubahan yang dikendaki.[5]
3. Watson.
Menurutnya, stimulus dan
respons harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. Ia mengabaikan
perubahan mental yang terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor
yang tidak perlu diketahui. Perubahan
mental juga penting bagi siswa tetapi
perubahan itu tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi
atau belum. Ia tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, tetapi mereka
tetap mengakui bahwa semua hal itu
penting.[6]
Belajar adalah suatu proses
dari respons melalui pergantian dari suatu stimulus kepada yang lain.
Menurutnya, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosi,
ketakutan, cinta, dan marah.[7] Semua tingkah laku
dikembangkan oleh pembentukan hubungan
stimulus dan respons baru melalui
pengkondisian.
4. Clark Hull
Ia menganggap bahwa tingkah
laku berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidupnya sehingga kebutuhan biologis
dan pemuasan menempati posisi sentral. Kebutuhan ini dikonsepkan sebagai
dorongan (lapar, haus, tidur, hilang rasa nyeri dll). Stimulus dikaitkan dengan
kebutuhan biologis yang dikaitkan dengan respon yang bermacam-macam bentuknya.[8]
5. Edwin Guthrie
Belajar merupakan kaitan
asosiatif antara stimulus tertentu dan respons tertentu. Hubungan antara
stimulus dengan respons merupakan faktor kritis dalam belajar, oleh karena itu
diperlukan pemberian stimulus yang
sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Suatu respons akan lebih kuat dan
menjadi kebiasaan apabila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam
stimulus. Ia menganggap bahwa hukuman pada saat yang tepat memiliki peran
penting dalam proses belajar karena akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
6. Burrhus Frederic Skinner 1904
(Pembiasaan Perilaku Respons)
Tingkah laku terbentuk dari
konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri. Sejumlah perilaku
atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat.[9]
Teori ini menyatakan bahwa anak manusia lahir tanpa warisan (kecerdasan, bakat,
perasaan dll). Semua kecakapan, kecerdasan, dan
bahkan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam
sekitar terutama alam pendidikan. individu bisa pintar, terampil, dan
berperasaan hanya bergantung pada bagaimana individu itu dididik.
Skinner memandang hadiah atau
penguatan sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar.[10]
Manusia cenderung untuk belajar suatu respons jika segara diikuti penguatan. Ia
memilih istilah penguatan daripada hadiah karena hadiah diinterpretasikan
sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan, sedangkan
penguatan adalah istilah yang netral.[11]
Ia memusatkan hubungan antar
tingkah laku dan konsekuen. Contoh, jika tingkah laku individu diikuti oleh
konsekuensi menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu sesering
mungkin. Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam
mengubah tingkah laku sering disebut operant conditioning.[12]
Ia tidak menggunakan
perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku yang akan membuat
masalah menjadi rumit karena alat itu harus dijelaskan lagi. Sebagai contoh
siswa berprestasi buruk karena mengalami
frustasi. Hal itu akan menimbulkan pertanyaan apa itu frustasi yang akan
memerlukan penjelasan lain.[13]
B. Kelemahan dan kekuatan teori
behavioristik ini adalah proses belajar:
a. “dapat diamati secara
langsung padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya.
b. bersifat otomatis-mekanis,
sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa
memiliki kemampuan mengarahkan diri dan pengendalian diri yang bersifat
kognitif, dan karenanya ia bisa menolak merespons jika ia tidak mengendaki,
misal ia lelah dengan kata hati.
c. manusia yang dianalogikan
dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya
perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan”.[14]
d. “usaha-usaha mengubah
perilaku mengabaikan faktor-faktor kognitif yang potensial mengganggu proses
belajar. Untuk siswa yang pengetahuan atau kemampuan kognitifnya lemah, harus
menggunakan strategi belajar mengajar pada teori kognitif.
e. penguatan yang diberikan
karena menyelesaikan tugas-tugas akademis yang bisa mendorong siswa untuk
melakukannya lebih cepat dan bagus.
f. penguatan ekstrinsik terhadap
sebuah aktivitas yang dianggap siswa sudah menguatkan secara intrinsik akan
mengurangi kesenangan siswa terhadap kegiatan tersebut. Ketika siswa
mengerjakan tugas yang sulit, guru memberikan dorongan agar siswa mengerjakan
dengan baik tetapi siswa akan merasakan kebosanan”.[15]
C. Neo behaviorisme.
Neobehaviorisme muncul
sebagai teori revisi yang telah dicetuskan ahli psikologi pendidikan yang ada
pada masa abad ke-19 yakni ilmuwan itu bernama Watson, dan Skinner. Dan teori
pembelajaran yang telah dicetuskan adalah teori behaviorisme, teori ini lebih
cenderung pada proses belajar yang didasarkan pada tingkah laku seorang siswa.
Sedangkan teori yang telah ditawarkan oleh Robert Gagne yang baru ini (revisi
atau penguat dari teori sebelumnya), lebih membidik pada hasil dari tingkah
laku seorang siswa setelah melakukan proses belajar yang tentunya melalui S-R
(Stimulus dan Respon) nya siswa tersebut dalam menghasilkan output yang
diharapkan mampu mencapai perkembangan setelah melewati proses tersebut.
Robert M Gagne
membedakan delapan tipe belajar, yang dipusatkan kepada hasil belajar yang
diperoleh dan disusun secara hierarkis dan sistematik dimana tipe belajar yang
satu menjadi landasan bagi tipe belajar yang berikutnya. Delapan tipe belajar
tersebut adalah:[16]
1.
Signal Learning (Belajar isyarat)
Signal learning ini mirip dengan conditioning menurut Pavlov
dan timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat
umum, kabur, emosional dan timbulnya refleks dan tak dapat dikuasai. Contohnya:
melihat ular timbul rasa takut, melihat orang tersenyum timbul rasa senang.
2.
Stimulus-respon learning (belajar stimulus-respon)
Dalam pola belajar ini, dibentuk hubungan antara suatu
perangsang dan suatu reaksi, berdasarkan efek yang mengikuti pemberian reaksi
tertentu. Pola ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Skinner.
3.
Chaining (Rantai atau rangkaian)
Rangkaian terjadi jika terbentuk hubungan antara beberapa
S-R oleh sebab yang satu terjadi setelah yang satu lagi, berdasarkan continuity
(pembiasaan).
4.
Verbal association (Assosiasi verbal)
Terbentuknya hubungan antara suatu perangsang dengan suatu
reaksi verbal. Contohnya: jika anak diperlihatkan suatu bangun geometris, maka
dia akan bisa mengatakan ”persegi” atau ”jajar genjang” karena dia sudah
mengenal bentuk bentuk geometris.
5.
Discrimination learning (belajar diskriminasi)
Hasil dari cara belajar ini adalah kemampuan untuk
membeda-bedakan antara objek-objek yang terdapat dalam lingkungan fisik yang
real. Contohnya: siswa dapat mengenal berbagai merk mobil berdasarkan ciri-
cirinya sehingga siswa mampu mendiskriminasikan jenis-jenis mobil tersebut.
6.
Concept learning ( belajar konsep )
Untuk memahami suatu konsep, seseorang harus bisa
mendiskriminasi untuk membedakan apa yang masuk dan apa yang tidak masuk dalam
konsep itu. Misalnya, orang yang tidak mempunyai persepsi yang jelas tentang
variasi dalam bentuk ukuran, dan warna tanaman, akan mengalami kesulitan dalam
menggolong-golongkan suatu tanaman.
7.
Rule learning (belajar aturan)
Cara belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas
penggabungan beberapa konsep. Pengungkapan hubungan atau relasi tetap di antara
konsep-konsep itu, biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat.
8.
Problem solving (pemecahan masalah)
Cara belajar ini mnghasilkan suatu prinsip yang dapat
dipergunakan dalam pemecahan suatu problem. Problem yang dihadapi akan dapat
dipecahkan dengan menghubung-hubungkan beberapa kaidah sedemikian rupa sehingga
terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi, yang oleh Gagne disebut ”higher-
order rule” dan kerap dilahirkan sebagai hasil berpikir, bila orang menghadapi
suatu problem untuk dipecahkan.
Sistematika ”delapan tipe belajar” kemudian diganti oleh
Gagne dengan sistematika lain atau yang biasa disebut dengan Neobehaviorisme,
sehingga sistematika terdahulu tidak aktual lagi namun tetap mempunyai suatu
nilai historis, karena di dalamnya terkandung dua keyakinan yaitu bentuk/jenis
belajar berjumlah lebih dari satu dan hasil belajar yang satu menjadi landasan
belajar hasil yang lain.[17]
BAB III
PENUTUP
A. Kesipulan
Dari pembahasan diatas dapat pemaklah simpulkan bahwa antara
teori behavior dengan neo-behavior ada kaitan yang sangat erat satu sama lain
yang merupakn pengembangan dari teori sebelumnya akan tetapi neo-beavior
menekankan pada hasil dari sebuah konsep itu sendiri tidak hanya teori.
Demikian makalah ini pemakalah susun kurang lebihnya mohon
maaf masih banyak kekurangan dan kesalahan yang harus diperbaiki baik dari
tulisan, paragraph, kesinambungan antar kata dan sebaginya. Wassalam
DAFTAR PUSTAKA
Uno. Hamzah, 2006.
Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Syah. Muhibbin, 2004.
Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, 2005. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan, Bandung: PT Renita Cipta.
H.M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan
Umum, (Jakarta : Bumi Aksara ; 2000)
Gage, N.L., & Berliner,
D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
Jeanne Ellis Ormrod. Psikologi Pendidikan
Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang
Edisi keenam, (Jakarta: Erlangga, 2008)
Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka
Cipta, 2007)
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi
Pendidikan
[2]
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational
Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
[3]
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda,
1995), hlm. 105-106.
[4]
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2006), hlm., 7
[5]
Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm.
107-108.
[6]
Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 7-8
[7]
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006),
hlm. 129
[8]
Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 8
[9]
Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm. 109
[10]
Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 32
[11]
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hlm.131
[12]
Ibid,
[13]
Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 9
[14]
Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm., 110.
[15]
Jeanne Ellis Ormrod. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Edisi keenam
, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 466.
[17]
Syah. Muhibbin, 2004. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya