Selasa, 31 Maret 2015


BAB I
PENDAHULUAN
ALatar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan bangsa dan masyaraktnya, oleh karena itu kita harus dapat memecahkan banyak masalah yang menyangkut peningkatan harkat dan martabat umat manusia dalam satu bangsa itu. Meningkatkan harkat dan martabat hidup manusia berarti banyak menyangkut pendidikan, peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri oleh karenanya perjuangan manusia dalam proses pendidikan dan kebudayaan menempati posisi kunci dalam perjuangan tersebut. Tiada suatu kemajuan atau peningkatan hidup didalam peradaban dan kebudayaan tanpa adanya peningkatan dalam usaha pendidikan.[1]
Teori behavioristik merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan. Menurut Jhon Watson (1878-1958), belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Aliran psikologi sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.[2]
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang teori belajar behaviorisme dan neobehaviorisme dalam pembelajaran.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Behaviorisme dalam Pembelajaran.
1.      Edward Lee Thorndike ( The Law of Effect)
Belajar adalah hubungan antara stimulus (pikiran, perasaaan, gerakan) dan respons (pikiran, perasaan, gerakan). Apabila respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dan respons semakin kuat dan sebaliknya.[3] Perubahan tingkah laku  boleh berwujud sesuatu yang dapat dan tidak bisa diamati.[4]
Faktor penting yang mempengaruhi semua belajar adalah  pernyataan kepuasan dari suatu kejadian. Ia menghapuskan bagian negatif yang mengganggu dari hukum pengaruh (law of effect) karena dia menemukan bahwa hukuman tidak penting Hukuman akan memperlemah ikatan dan tidak mempunyai effect apa-apa  berbeda dengan hadiah (reward).
Teori belajarnya mengarah pada sejumlah praktik  pendidikan. Saran umum bagi guru adalah tahu apa yang hendak diajarkan, respons apa yang diharapkan, dan kapan harus memberikan hadiah atau penguat. Ia menunjukan satu ikatan antara stimulus dan respons yang terjadi dalam matematika. Ulangan yang tetap dari tabel perkalian dengan memberikan hadiah dari guru akan membentuk ikatan antara stimulus (berapa 7x7) dan respons (49) dalam membaca ulangan juga ditekankan dengan menyuruh siswa  belajar menggunakan kata sesering mungkin pada berbagai tingkat kelas. Hukum pengaruh mengarah pada pemberian hadiah yang konkret, seperti gambar bintang yang ditempelkan pada papan kelas (untuk siswa siswa TK dan SD) pada kertas hasil ulangan siswa,  pujian verbal. Hukum latihan mengarah pada banyaknya ulangan,  praktik dan dril untuk semua mata pelajaran.
2.      Ivan Pavlow ( classic conditioning : pengkondisian klasik)
Teori ini adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respons. Stimulus yang diadakan selalu disertai dengan stimulus penguat. Stimulus tadi, cepat atau lambat akan menimbulkan respons atau perubahan yang dikendaki.[5]
3.      Watson.
Menurutnya, stimulus dan respons harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. Ia mengabaikan perubahan mental yang terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak  perlu diketahui. Perubahan mental juga penting bagi siswa tetapi  perubahan itu tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Ia tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, tetapi mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu  penting.[6]
Belajar adalah suatu proses dari respons melalui pergantian dari suatu stimulus kepada yang lain. Menurutnya, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosi, ketakutan, cinta, dan marah.[7] Semua tingkah laku dikembangkan oleh  pembentukan hubungan stimulus dan respons baru melalui  pengkondisian.
4.      Clark Hull
Ia menganggap bahwa tingkah laku berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidupnya sehingga kebutuhan biologis dan pemuasan menempati posisi sentral. Kebutuhan ini dikonsepkan sebagai dorongan (lapar, haus, tidur, hilang rasa nyeri dll). Stimulus dikaitkan dengan kebutuhan biologis yang dikaitkan dengan respon yang bermacam-macam bentuknya.[8]
5.      Edwin Guthrie
Belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respons tertentu. Hubungan antara stimulus dengan respons merupakan faktor kritis dalam belajar, oleh karena itu diperlukan  pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Suatu respons akan lebih kuat dan menjadi kebiasaan apabila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. Ia menganggap bahwa hukuman pada saat yang tepat memiliki peran penting dalam proses belajar karena akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
6.      Burrhus Frederic Skinner 1904 (Pembiasaan Perilaku Respons)
Tingkah laku terbentuk dari konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri. Sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat.[9] Teori ini menyatakan bahwa anak manusia lahir tanpa warisan (kecerdasan, bakat, perasaan dll). Semua kecakapan, kecerdasan, dan  bahkan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar terutama alam pendidikan. individu bisa pintar, terampil, dan berperasaan hanya bergantung pada bagaimana individu itu dididik.
Skinner memandang hadiah atau penguatan sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar.[10] Manusia cenderung untuk belajar suatu respons jika segara diikuti penguatan. Ia memilih istilah penguatan daripada hadiah karena hadiah diinterpretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan, sedangkan penguatan adalah istilah yang netral.[11]
Ia memusatkan hubungan antar tingkah laku dan konsekuen. Contoh, jika tingkah laku individu diikuti oleh konsekuensi menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu sesering mungkin. Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku sering disebut operant conditioning.[12]
Ia tidak menggunakan perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku yang akan membuat masalah menjadi rumit karena alat itu harus dijelaskan lagi. Sebagai contoh siswa  berprestasi buruk karena mengalami frustasi. Hal itu akan menimbulkan pertanyaan apa itu frustasi yang akan memerlukan  penjelasan lain.[13]

B.     Kelemahan dan kekuatan teori behavioristik ini adalah proses  belajar:
a.       “dapat diamati secara langsung padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya.
b.      bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki kemampuan mengarahkan diri dan pengendalian diri yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak merespons jika ia tidak mengendaki, misal ia lelah dengan kata hati.
c.       manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan”.[14]
d.      “usaha-usaha mengubah perilaku mengabaikan faktor-faktor kognitif yang potensial mengganggu proses belajar. Untuk siswa yang pengetahuan atau kemampuan kognitifnya lemah, harus menggunakan strategi belajar mengajar pada teori kognitif.
e.       penguatan yang diberikan karena menyelesaikan tugas-tugas akademis yang bisa mendorong siswa untuk melakukannya lebih cepat dan bagus.
f.       penguatan ekstrinsik terhadap sebuah aktivitas yang dianggap siswa sudah menguatkan secara intrinsik akan mengurangi kesenangan siswa terhadap kegiatan tersebut. Ketika siswa mengerjakan tugas yang sulit, guru memberikan dorongan agar siswa mengerjakan dengan baik tetapi siswa akan merasakan kebosanan”.[15]

C.     Neo behaviorisme.
Neobehaviorisme muncul sebagai teori revisi yang telah dicetuskan ahli psikologi pendidikan yang ada pada masa abad ke-19 yakni ilmuwan itu bernama Watson, dan Skinner. Dan teori pembelajaran yang telah dicetuskan adalah teori behaviorisme, teori ini lebih cenderung pada proses belajar yang didasarkan pada tingkah laku seorang siswa. Sedangkan teori yang telah ditawarkan oleh Robert Gagne yang baru ini (revisi atau penguat dari teori sebelumnya), lebih membidik pada hasil dari tingkah laku seorang siswa setelah melakukan proses belajar yang tentunya melalui S-R (Stimulus dan Respon) nya siswa tersebut dalam menghasilkan output yang diharapkan mampu mencapai perkembangan setelah melewati proses tersebut.
Robert M Gagne membedakan delapan tipe belajar, yang dipusatkan kepada hasil belajar yang diperoleh dan disusun secara hierarkis dan sistematik dimana tipe belajar yang satu menjadi landasan bagi tipe belajar yang berikutnya. Delapan tipe belajar tersebut adalah:[16]
1.            Signal Learning (Belajar isyarat)
         Signal learning ini mirip dengan conditioning menurut Pavlov dan timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat umum, kabur, emosional dan timbulnya refleks dan tak dapat dikuasai. Contohnya: melihat ular timbul rasa takut, melihat orang tersenyum timbul rasa senang.
2.            Stimulus-respon learning (belajar stimulus-respon)
         Dalam pola belajar ini, dibentuk hubungan antara suatu perangsang dan suatu reaksi, berdasarkan efek yang mengikuti pemberian reaksi tertentu. Pola ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Skinner.
3.            Chaining (Rantai atau rangkaian)
         Rangkaian terjadi jika terbentuk hubungan antara beberapa S-R oleh sebab yang satu terjadi setelah yang satu lagi, berdasarkan continuity (pembiasaan).
4.            Verbal association (Assosiasi verbal)
         Terbentuknya hubungan antara suatu perangsang dengan suatu reaksi verbal. Contohnya: jika anak diperlihatkan suatu bangun geometris, maka dia akan bisa mengatakan ”persegi” atau ”jajar genjang” karena dia sudah mengenal bentuk bentuk geometris.
5.            Discrimination learning (belajar diskriminasi)
         Hasil dari cara belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antara objek-objek yang terdapat dalam lingkungan fisik yang real. Contohnya: siswa dapat mengenal berbagai merk mobil berdasarkan ciri- cirinya sehingga siswa mampu mendiskriminasikan jenis-jenis mobil tersebut.
6.            Concept learning ( belajar konsep )
         Untuk memahami suatu konsep, seseorang harus bisa mendiskriminasi untuk membedakan apa yang masuk dan apa yang tidak masuk dalam konsep itu. Misalnya, orang yang tidak mempunyai persepsi yang jelas tentang variasi dalam bentuk ukuran, dan warna tanaman, akan mengalami kesulitan dalam menggolong-golongkan suatu tanaman.
7.            Rule learning (belajar aturan)
         Cara belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep. Pengungkapan hubungan atau relasi tetap di antara konsep-konsep itu, biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat.
8.            Problem solving (pemecahan masalah)
         Cara belajar ini mnghasilkan suatu prinsip yang dapat dipergunakan dalam pemecahan suatu problem. Problem yang dihadapi akan dapat dipecahkan dengan menghubung-hubungkan beberapa kaidah sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi, yang oleh Gagne disebut ”higher- order rule” dan kerap dilahirkan sebagai hasil berpikir, bila orang menghadapi suatu problem untuk dipecahkan.
         Sistematika ”delapan tipe belajar” kemudian diganti oleh Gagne dengan sistematika lain atau yang biasa disebut dengan Neobehaviorisme, sehingga sistematika terdahulu tidak aktual lagi namun tetap mempunyai suatu nilai historis, karena di dalamnya terkandung dua keyakinan yaitu bentuk/jenis belajar berjumlah lebih dari satu dan hasil belajar yang satu menjadi landasan belajar hasil yang lain.[17]





BAB III
PENUTUP

A.    Kesipulan
         Dari pembahasan diatas dapat pemaklah simpulkan bahwa antara teori behavior dengan neo-behavior ada kaitan yang sangat erat satu sama lain yang merupakn pengembangan dari teori sebelumnya akan tetapi neo-beavior menekankan pada hasil dari sebuah konsep itu sendiri tidak hanya teori.
         Demikian makalah ini pemakalah susun kurang lebihnya mohon maaf masih banyak kekurangan dan kesalahan yang harus diperbaiki baik dari tulisan, paragraph, kesinambungan antar kata dan sebaginya. Wassalam












DAFTAR PUSTAKA

Uno. Hamzah, 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Syah. Muhibbin, 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Renita Cipta.
H.M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta : Bumi Aksara ; 2000)
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
Jeanne Ellis Ormrod. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang
Edisi keenam, (Jakarta: Erlangga, 2008)
Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007)
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan








[1] H.M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta : Bumi Aksara ; 2000)
[2] Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
[3] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda, 1995), hlm. 105-106.
[4] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm., 7
[5] Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm. 107-108.
[6] Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 7-8
[7] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm. 129
[8] Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 8
[9] Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm. 109
[10] Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 32
[11] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hlm.131
[12] Ibid,
[13] Ibid., Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, hlm., 9
[14] Ibid., Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hlm., 110.
[15] Jeanne Ellis Ormrod. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang  Edisi keenam
, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 466.
[16] Uno. Hamzah, 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: PT. Bumi Aksara
[17] Syah. Muhibbin, 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar